Posted by : Annisa Minggu, 02 Oktober 2016



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI AKUSTIK SECARA GLOBAL MAUPUN DI INDONESIA


             Devinisi Akustik

Kata “akustik” berasal dari kata Yunani “akoustikos” yang berarti dari atau untuk  pendengaran. Akustik adalah ilmu interdisipliner yang berkaitan dengan studi dari semua gelombang mekanik dalam gas, cairan, dan padatan termasuk getaran, USG, suara, dan infrasonic. Akustik sendiri memiliki definisi sebagai teori gelombang suara dan perambatannya pada suatu medium. Seorang ilmuan yang bekerja dibidang akustik adalah acoustician, sementara yang bekerja di bidang teknologi akustik dapat disebut sebagai seorang insinyur akustik.
Akustik kelautan merupakan satu bidang kelautan yan mendeteksi target dikolom perairan dan dasar perairan dengan menggunakan suara sebagai medianya. Akustik kelautan merupakan teori yang membahas tentang gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium di air laut.
Akustik dibagi menjadi dua macam jenis yaitu:
1.      Akustik Pasif : merupakan suatu aksi mendengarkan gelombang suara yang dating dari berbagai objek pada kolom perairan, biasanya suara yang diterima pada frekuensi tertentu ataupun frekuensi yang spesifik untuk berbagai analisis.
2.      Akustik Aktif : dapat mengukur jarak dari objek yang dideteksi dan ukuran relatifnya dengan menghasilkan pulsa suara dan mengukur waktu tempuh dari pulsa tersebut sejak dipancarkan sampai diterima kembali oleh alat serta dihitung berapa amplitude yang kembali. Akustik aktif memiliki prinsip dasar SONAR untuk pengukuran bawah air.
Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dngan mempertimbangkan proseproses perambatan suara, karakteristik suara, faktor lingkungan, dan kondisi target. Kelebihan dari metode akustik ini yaitu berkecepatan tinggi, estimasi stok ikan secara langsung, dan memproses dara secara real time, tepat, dan akurat.



       Sejarah Perkembangan Akustik

Sejarah perkembangan akustik kelautan dimulai sekitar tahun 1490 berasal dari catatan harian Leonardo da vinci yang menuliskan “Dengan menempatkan ujung pipa yang panjang didalam laut dan ujung lainnya di telinga anda, dapat mendengarkan kapal-kapal laut dari kejauhan”. Ini mengindikasikan bahwa suara dapat berpropagasi di dalam air. Ini yang disebut dengan Sonar Pasif (Passive Sonar) karena kita hanya mendengar suara yang ada.
Pada abad ke 19, Jacques and Pierre Currie menemukan piezoelectricity, sejenis Kristal yang dapat membangkitkan arus listrik jika Kristal tersebut ditekan, atau jika sebaliknya jika Kristal tersebut dialiri arus listrik maka Kristal akan mengalami tekanan yang akan menimbulkan perubahan tekanan di permukaan Kristal yang bersentuhan dengan air. Selanjutnya sinyal suara akan berpropagansi didalam air. Ini yang selanjutnya disebut Sonar Aktif (Active Sonar).
Perkembangan akustik yang sangat pesat pada saat Perang Dunia pertama terutama digunakan untuk pendeteksian kapal-kapal selam yang ada dibawah laut. Pendeteksian ini menggunakan 12 hydrophone (yang setara dengan microphone untuk penggunaan didarat) yang diletakkan memanjang di bawah kapal laut untuk mendengarkan sinyal suara ang berasal dari kapal selam. Setelah Perang Dunia I, perkembangan akustik kelautan cenderung stagnan dikarenakan pada saat itu belum adanya perkembangan lebih lanjut dan penggunaan akustik kelautan lebih difokuskan untuk keperluan militer. Pada saat Perang Dunia di mulai penggunaan akustik kembali berkembang dengan pesat. Penggunaan torpedo yang menggunakan sinyal akustik untuk mencari kapal musuh adalah penemuan yang hebat pada jaman itu.
Setelah selesainya Perang Dunia II, akustik tidak hanya digunakan untuk keperluan militer saja, tetapi akustik banyak digunakan untuk keperluan non-militer diantaranya mempelajari proses perambatan suara didalam medium air, penelitian sifat-sifat akustik dari air dan benda-benda bawah air, pengamatan, benda-benda dari echo yang mereka hasilkan, pendeteksian sumber-sumber suara bawah air, komunikasi dan penetapan posisi dengan alat akustik bawah air.
Pada decade tahun ketujuhpuluhan barulah secara intensif diterapkan dalam pendeteksian dan pendugaan stok ikan, yakni dengan dikembangkannya analog echo-integrator dan echo counter. Perkembangan yang menyolok ini tidak hanya di Inggris tetapi juga di Norwegia, Amerika, Jepang, Jerman, dan sebagainya.
Kemudian setelah diketemukan digital echo integrator dual beam acoustic system, split beam acousticsystem, quasy ideal beam system, dan aneka echo processor canggih lainnya, barulah ketelitian dan ketepatan pendugaan stok ikan dapat ditingkatkan sehingga akhir-akhir ini peralatan akustik menjadi peralatan standar dalam pendugaan stok ikan dan menejeman semberdaya ikan.
Seperti kita ketahui bahwa alat akustik merupakan salah satu alat yang dapat mendeteksi kedalaman dan keberadaan suatu benda yang ada di bawah permukaan laut salah satunya adalah iakn dan biota lainnya. Alat ini merupakan peralatan pendukung untuk para nelayan yang menangkap ikan di lautan. Teknologi akustik merupakan metode yang sangat efektif dan bermanfaat bagi eksplorasi di bidang kelautan dan perikanan sekarang ini. Metode ini dikenal dengan Hidroakustik yang terdiri dari pengukuran, analisis, dan intrepretasi dari sinyal yang dipantulkan oleh objek atau scattering dari target yang dikenai gelombang akustik dari tranduser atau alat hidroakustik. Objek tersebut berupa ikan, plankton, dan substrat dasar perairan. Secara garus besar penggunaan akustik bawah air dalam kelautan dan perikanan dapat dikelompokkan menjadi lima yakni:
·         Untuk survey
·         Budidaya perairan
·         Penelitian tingkah laku ikan
·         Selektifitas alat-alat penangkap ikan
Pada saat sekarang ilmu akustik di manfaatkan untuk aplikasi dalam survey kelautan, budidaya perairan, penelitian tingkah laku ikan, aplikasi dalam studi penampilan dan selektivitas alat tangkap, bioakustik. Aplikasi dalam survey kelautan, dengan akustik kita dapat menduga spesies ikan yang ada di daerah tertentu dengan menggunakan pantulan dari suara, semua spesies mempunyai target strength yang berbeda-beda. Aplikasi dalam dunia budidaya untuk pendugaan jumlah ikan, biomassa dari ikan dalam jarring pembesaran untuk menduga ukuran dari individu ikan dalam jarring kurungan memantau tingkah laku ikan dengan acoustic tagging.
Salah satu contoh alat akustik kelautan yang sering digunakan saat ini secara global ataupun di Indonesia sendiri dalam bidang kelautan ini sendiri adalah Sonar (Sound Navigation and Ranging) adalah sistem penginderaan bawah air dengan menggunakan gelombang suara (akustik). Penginderaan bawah air sangat banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi lainnya, terutama teknologi sensor, elektronika dan microprocessor. Alat ini dikembangkan untuk berbagai aplikasi misalnya untuk peralatan dasar laut, perikanan dan sebagainya. Penerapan teknologi akustik bawah air untuk eksplorasi sumberdaya non-hayati laut yaitu:
·         Pengukuran Kedalaman Dasar Laut (Bathymetry)
·         Pengindentifikasian Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut (Sub bottom Profiles)
·         Pemataan Dasar Laut (Sea Bed Mapping)
·         Pencarian Kapal-kapal karam didasar laut
·         Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut
·         Analisis Dampak Lingkungan di Dasar Laut

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ~Tulisan Bebas~ - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -